Kamis, 23 Januari 2014

Balada Sepatu, Kerikil dan Aku



Cukup lama aku berjalan di jalan setapak ini




Tak jua ku temukan ujungnya




Semakin lama jalannya semkain sempit dan berkerikil




Sial!




Berkali-kali kerikil-kerikil itu nyempil di sepatuku




Tajam




Cukup tajam untuk merobek telapak kakiku




Aku berjalan terseok, kemudian menringis kesakitan




Jikalau aku bertemu beberapa krikil lagi dijalan depan, kemudian aku berjinjit menghidnar




Ah sial!




Tetap saja krikil-krikil itu punya banyak cara nyempil di sepatuku




Jikalau aku sudah menemukan ujung dari jalan ini aku tetap yakin orang yang berada diujung sana tetap akan mengirimku kembali kepada krikil-krikil sial yang senangnya bukan main nyempil di sepatuku




Jadi mungkin aku memang harus belajar mencintai krikil yang nyempil di sepatuku




Bukan begitu?




 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar