Balada Sepatu, Kerikil dan Aku
Cukup
lama aku berjalan di jalan setapak ini
Tak
jua ku temukan ujungnya
Semakin
lama jalannya semkain sempit dan berkerikil
Sial!
Berkali-kali
kerikil-kerikil itu nyempil di sepatuku
Tajam
Cukup
tajam untuk merobek telapak kakiku
Aku
berjalan terseok, kemudian menringis kesakitan
Jikalau
aku bertemu beberapa krikil lagi dijalan depan, kemudian aku berjinjit
menghidnar
Ah
sial!
Tetap
saja krikil-krikil itu punya banyak cara nyempil di sepatuku
Jikalau
aku sudah menemukan ujung dari jalan ini aku tetap yakin orang yang berada
diujung sana tetap akan mengirimku kembali kepada krikil-krikil sial yang
senangnya bukan main nyempil di sepatuku
Jadi
mungkin aku memang harus belajar mencintai krikil yang nyempil di sepatuku
Bukan
begitu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar